BGN Ungkap Daftar Menu Makan Bergizi Gratis yang Kerap Picu Sakit Perut, Muntah, dan Diare pada Anak

BGN Ungkap Daftar Menu Makan Bergizi Gratis yang Kerap Picu Sakit Perut, Muntah, dan Diare pada Anak
Foto: Ilustrasi BGN Ungkap Daftar Menu Makan Bergizi Gratis yang Kerap Picu Sakit Perut, Muntah, dan Diare pada Anak.

Badan Gizi Nasional (BGN) secara resmi merilis daftar jenis makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang memiliki potensi tinggi memicu gangguan pencernaan pada anak-anak. Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan bahwa temuan ini didapat berdasarkan hasil evaluasi mendalam oleh tim investigasi pemantauan dan pengawasan di lapangan.

Melalui pernyataan di akun Instagram pribadinya, Nanik mengungkapkan bahwa beberapa menu teridentifikasi sebagai penyebab utama munculnya gejala mual, muntah, hingga diare pada peserta didik. Salah satu menu yang paling sering memicu masalah kesehatan tersebut adalah soto karena penggunaan kondimen mentah yang berisiko tinggi.

Penyajian soto dianggap berbahaya apabila bahan pelengkap seperti kol, seledri, dan tauge disajikan dalam kondisi mentah tanpa melalui proses sterilisasi yang tepat. Risiko kontaminasi semakin meningkat ketika kuah yang disiramkan ke bahan-bahan tersebut sudah dalam kondisi dingin saat didistribusikan kepada para siswa.

Kondisi kuah yang tidak panas saat bercampur dengan sayuran mentah sangat rentan menjadi sarana pertumbuhan bakteri e-Coli yang merusak sistem pencernaan. Bagi anak-anak yang memiliki sistem imun tubuh rendah, paparan bakteri dari sajian soto tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan secara instan.

Selain soto, BGN juga menyoroti beberapa jenis hidangan nasi seperti nasi kuning, nasi uduk, dan nasi goreng sebagai menu yang rawan menyebabkan sakit perut. Kelompok makanan ini dinilai memiliki karakteristik yang cepat basi atau mengalami kerusakan kualitas jika tidak segera dikonsumsi setelah waktu pengolahan.

Sajian berbahan dasar mi juga masuk dalam radar pengawasan ketat, terutama apabila proses memasak mi goreng dilakukan bersamaan dengan campuran sayuran. Proses pengolahan yang tidak tepat pada kombinasi bahan tersebut disinyalir menjadi titik lemah yang memicu munculnya bakteri penyebab gangguan perut.

Ayam suwir tercatat sebagai salah satu menu dengan tingkat risiko keracunan paling tinggi karena sering kali menggunakan bahan baku ayam yang tidak segar atau kualitas rendah. Selain masalah bahan baku, kontaminasi sering terjadi akibat proses penyuwiran daging secara manual yang dilakukan tanpa menggunakan sarung tangan pelindung.

Faktor manajemen waktu juga berpengaruh besar di mana proses penyuwiran ayam sering dilakukan sejak sore hari sebelum hari penyajian demi mengejar target waktu distribusi. Hal ini membuat durasi penyimpanan menjadi terlalu lama sehingga risiko pertumbuhan mikroorganisme patogen pada daging ayam meningkat drastis sebelum sampai ke tangan anak-anak.

Evaluasi Teknik Memasak dan Keamanan Pangan

Nanik menambahkan bahwa makanan yang menggunakan beragam jenis saus juga patut diwaspadai karena berpotensi besar memicu gangguan pada saluran pencernaan anak. Masalah sering muncul ketika saus dimasak kurang matang atau makanan dikonsumsi lebih dari 12 jam setelah waktu pemasakan, bahkan ada yang dibawa pulang oleh siswa.

Menu lain yang dilaporkan memicu rasa mual dan muntah adalah ayam bakar serta ikan dengan teknik barbeque yang proses pematangannya sering kali tidak sempurna. Berdasarkan hasil penelusuran, ditemukan bahwa proses pembakaran sering tidak menggunakan oven besar yang standar, melainkan hanya memakai alat pembakar kecil atau torch.

Penggunaan alat pembakar torch hanya memberikan efek karamelisasi atau tampilan gosong pada lapisan luar daging tanpa memastikan bagian dalam matang secara menyeluruh. Ketidakmatangan pada bagian dalam daging inilah yang menjadi sumber bakteri berbahaya yang menyerang sistem pencernaan anak-anak sekolah yang mengonsumsinya.

Atas dasar temuan-temuan krusial tersebut, Badan Gizi Nasional untuk sementara waktu tidak merekomendasikan jenis-jenis makanan tersebut untuk dimasukkan ke dalam daftar menu program MBG. Kebijakan ini akan terus berlaku hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki juru masak ahli yang benar-benar memahami standar keamanan pangan.

Kategori Menu Jenis Makanan Berisiko Penyebab Utama Gangguan
Sajian Berkuah Soto Kondimen mentah (kol, tauge) dan kuah yang sudah dingin.
Olahan Nasi Nasi Kuning, Nasi Uduk, Nasi Goreng Karakteristik makanan yang cepat basi.
Olahan Protein Ayam Suwir Penggunaan ayam tidak segar dan kontaminasi tangan saat menyuwir.
Olahan Bakar Ayam Bakar, Ikan Barbeque Penggunaan torch sehingga daging tidak matang sampai ke dalam.
Lainnya Mi Goreng, Makanan Bersaus Proses masak kurang matang dan waktu konsumsi melebihi 12 jam.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.liputan6.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.

Artikel terkait

Rekomendasi