Mengintip Penerapan Konsep Eco Airport di Changi Airport

Konsep eco airport berfungsi untuk mengurangi dampak perubahan iklim dan menciptakan lingkungan sehat. Menjadi tantangan tersendiri di industri penerbangan untuk mencapai netralitas karbon.

Perubahan iklim saat ini menjadi isu global. Dampak yang sudah terasa adalah musim tidak menentu sampai pencairan es di kutub yang menyebabkan naiknya permukaan air laut. Selain itu, perubahan iklim juga berpengaruh terhadap keberlangsungan lalu lintas udara.

Lalu lintas udara sangat bergantung pada kondisi cuaca. Penerbangan harus memperhatikan tekanan udara, kecepatan angin serta keberadaan badai dalam memastikan keamanan dan keselamatan. Perubahan iklim menjadi tantangan tersendiri, pasalnya fenomena alam ini menyebabkan cuaca ekstrem dan tidak terduga seperti badai, turbulensi, dll.

Dalam upaya menekan dampak perubahan iklim, sektor penerbangan mulai menerapkan konsep eco airport yang ramah lingkungan. Faktanya, penerbangan merupakan salah satu sektor transportasi yang berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida. Diprediksi, emisi karbon yang dihasilkan dari sektor penerbangan sekitar 2 persen pada 2050, lalu meningkat 3-5 persen per tahun setelahnya.

Eco airport merupakan konsep bandar udara ramah lingkungan yang dioperasikan berdasarkan hasil pengukuran terhadap dampak terhadap lingkungan. Adapun komponen eco airport yang diukur mencakup noise (kebisingan), vibration (getaran), atmosphere (udara), water (air), soil (tanah), solid waste (sampah), energy, kawasan keselamatan operasi penerbangan dan kesehatan masyarakat atau lingkungan alamiah lainnya.

Changi Airport, Mengambil Langkah dengan Eco Airport

Salah satu bandara yang telah menerapkan konsep eco airport adalah Changi Airport di Singapura. Bandara ini baru saja dinobatkan sebagai bandara terbaik di dunia untuk ke-12 kalinya dalam ajang penghargaan bandara dunia yang diadakan di Terminal Penumpang ECPO, Amsterdam, pada 15 Maret 2023.

Dengan luas 20 ribu meter persegi, Changi Airport memiliki area terbuka yang dirancang untuk melestarikan lingkungan dan menyediakan ruang publik yang nyaman bagi pengunjung. Di Kompleks Jewel Terminal 1, terdapat lebih dari 2.000 pohon yang berfungsi menyerap emisi karbon dan meningkatkan sumber oksigen natural.

Di kompleks ini juga terdapat air terjun buatan setinggi 40 meter bernama Rain Vortex. Selain estetik, air terjun ini berfungsi mengalirkan air hujan dari badai petir yang sering terjadi di Singapura. Air yang jatuh dari atas kubah kaca mendinginkan udara dalam gedung secara alami.

Untuk penerangan, Changi Airport telah beralih ke lampu LED serta melakukan mendaur ulang sampah untuk menghasilkan tenaga listrik. Ini terlihat pada operasional armada tractor penanganan bagasi di Terminal 4 (T4) yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik.

Inisiatif lainnya yang ada di Changi Airport adalah dengan mengubah limbah makanan menjadi air. Changi Airport Group (CAG) memulai misi untuk mengurangi limbah makanan dengan berinvestasi pada digester. Digester merupakan suatu alat tampungan bahan organic dan limbah kotoran ternak untuk membentuk biogas yang bersifat anaerob.

Dalam tangki digester, mikroba digunakan untuk memecah limbah makanan menjadi air. Semakin sedikit limbah makanan yang dikirim ke pabrik insinerasi, semakin rendah emisi karbon secara keseluruhan.

Tahun lalu, alat ramah lingkungan ini telah mencerna lebih dari 250 ton limbah makanan yang sama dengan berat hampir tujuh pesawat A320. Saat ini, Changi Airport tercatat sebagai pengadopsi digester limbah makanan terbesar di Singapura dengan total 11 mesin dipasang di keempat terminal.

Hal ini membantu partisipasi CAG dalam Airport Carbon Accreditation, sebuah program global yang digagas oleh Airports Council International untuk mendorong dan memungkinkan bandara melacak serta mengurangi emisi karbon sehingga menjadi potensi mencapai netralitas karbon.

Klik tautan dibawah ini untuk berbagi artikel

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp