Gondola, Nasibmu Kini…

Deretan gondola terlihat parkir di sepanjang bibir kanal. Alih-alih hilir mudik di kanal, moda transportasi utama Venesia ini seolah pasrah, menanti keajaiban. Keajaiban alam yang akan mengalirkan air kembali ke kanal-kanal yang mengering.

Pemandangan tak lazim terlihat di Venesia lantaran air tidak lagi membanjiri kanal-kanal di Venesia. Kondisi tersebut diakibatkan kekeringan yang melanda Italia. Kekeringan disebabkan berbagai faktor, seperti kurangnya curah hujan, tekanan atmosfer tinggi, dan siklus bulan. Pada Juli 2022, Italia mengumumkan kekeringan ini adalah yang terburuk dalam kurun 70 tahun terakhir.

Faktor lainnya adalah Sungai Po yang merupakan sungai terbesar dan penyumbang sepertiga produksi pertanian di Italia mengalami penyusutan air hingga 61% di bawah kondisi normal. Lalu, penurunan curah hujan salju hingga 53% di Pegunungan Alpen Italia.

Surutnya kanal di Venesia menjadi sebuah anomali. Selama berabad-abad, Venesia berjuang melawan banjir. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran akan munculnya skenario terburuk, yaitu Venesia berisiko tenggelam ditelan gelombang pada awal 2100.

Terdampar

Seiring surutnya air kanal, pesona Kota Air ini pun seolah meredup. Begitu pun dengan para pendayung gondola atau gondolier, yang menjadikan gondola sumber mata pencahariannya. Kebanyakan gondolier telah menjalankan profesi ini selama puluhan tahun sehingga merasakan dampak luar biasa dari kekeringan tersebut.

Setelah sempat berhenti total selama pandemi, kini gondolier terpaksa memarkirkan gondolanya karena air kanal surut drastis. Bahkan, tidak sedikit gondola terdampar akibat terjebak lumpur kanal. Menurut pakar iklim dari Lembaga Penelitian Ilmiah Italia – CNR, seperti dikutip harian Corriere della Sera, dibutuhkan hujan selama 50 hari untuk memulihkan 500 milimeter di wilayah barat  laut.

Bukan hanya sumber mata pencaharian utama gondolier yang terdampak, mobilitas warga Venesia maupun wisatawan pengguna gondola pun ikut terdampak. Selama 500 tahun, gondola telah menjadi sarana transportasi utama di Venesia.

Berdasarkan catatan sejarah, sebanyak 10.000 gondola meramaikan lalu lintas kanal Venesia pada abad ke-17. Pada masa itu, selain sebagai transportasi umum, gondola juga dijadikan transportasi pribadi. Padatnya lalu lintas gondola di kanal Venesia masih berlangsung sampai abad  ke-20.

Seiring waktu, jumlah gondola menyusut hingga hanya sekitar 400 unit saja dan kebanyakan telah beralih fungsi sebagai transportasi wisata. Wisatawan dapat menyewa gondola untuk menelusuri labirin air Venesia sambil menikmati eksotisme arsitektur bangunan kuno yang berbaris rapi di tepian kanal.

Lebih dari sekadar alat transportasi, gondola memiliki keunikan yang menjadi daya tariknya. Di antaranya, gondola masih terbuat dari kayu dan dioperasikan secara manual oleh gondolier di tengah pesatnya perkembangan zaman dan teknologi.

Satu-satunya bagian perahu yang terbuah dari logam adalah buritan dan haluan. Haluan besi berfungsi untuk menyeimbangkan bobot gondolier yang mengayuh di buritan. Selain itu, bagian ini juga berfungsi sebagai dekorasi sekaligus lambang yang menyimbolkan enam wilayah (sestieri) dari pembagian Kota Venesia.

Keunikan lainnya adalah warna hitam gondola. Warna hitam melambangkan kesahajaan. Keterangan lain menyebutkan warna hitam sebagai tanda berkabung atas peristiwa Sampar  Hitam yang menyebabkan ribuan orang meninggal.

Adapula pendapat yang mengatakan warna hitam bertujuan untuk menonjolkan wajah wanita bangsawan Venesia yang sangat putih. Faktanya adalah warna hitam berasal dari minyak ter yang digunakan untuk melapisi gondola agar kedap air.

Keselamatan

Untuk menjamin keselamatan penumpang gondola, Venice Gondoliers melakukan pembatasan jumlah penumpang. Sebelumnya, gondola dapat dinaiki enam penumpang sekaligus. Sesuai aturan baru, seperti yang dilansir CNN pada Juli 2020, penumpang gondola dibatasi menjadi lima orang.

Pembatasan penumpang gondola disebabkan berat badan penumpang bisa memengaruhi keseimbangan perahu saat berlayar. Selain berat rata-rata per wisatawan, fakta lain yang juga melatarbelakangi asosiasi gondola tersebut adalah kondisi perairan kanal bisa tidak seimbang akibat lalu lintas perahu motor yang sibuk.

Perahu yang kelebihan muatan tak ubahnya sedang mengangkut bom waktu. Lantaran, air bisa naik ke lambung kapal sewaktu-waktu sehingga bisa sangat berbahaya.

Pembatasan penumpang juga berlaku untuk gondola besar yang hilir mudik di kanal besar (Grand Canal). Jika sebelumnya gondola ini bisa mengangkut 14 penumpang sekaligus, kini dibatasi menjadi 12 penumpang.

Selain pembatasan penumpang, ditetapkan pula aturan terkait lisensi pengayuh gondola. Dalam aturan baru, lisensi gondolier bisa diteruskan dalam keluarga yang sama. Pemegang baru tidak perlu mengikuti ujian lagi jika telah memiliki pengalaman mengelola gondola milik keluarganya selama empat tahun serta dapat membuktikan pengalaman tersebut. (*)

Klik tautan dibawah ini untuk berbagi artikel

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp