Bandara Jenderal Besar Soedirman, Buka Konektivitas Jateng Bagian Barat dan Selatan

Kehadiran Bandara Jenderal Besar Soedirman diharapkan mampu mengangkat ekonomi masyarakat Jawa Tengah bagian barat dan selatan. Bandara ini juga diproyeksikan untuk memudahkan para jemaah umroh dari wilayah tersebut.

Keberadaan Bandara Jenderal Besar Soedirman (JBS) menyediakan akses transportasi udara bagi masyarakat Purbalingga dan daerah sekitarnya. Dalam operasionalnya, Bandara JBS bukan hanya diperuntukan bagi penerbangan domestik tetapi juga melayani penerbangan umroh.

Ide pembangunan bandara diwilayah Purbalingga digagas oleh Triyono Budi Sasongko saat ia masih menjabat Bupati Purbalingga pada 2006. Satu dekade berselang, Presiden Joko Widodo meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan kajian pendirian Bandara JBS.

Sempat tertunda akibat Pandemi Covid-19, pembangunan Bandara JBS akhirnya rampung dan resmi beroperasi pada 1 Juni 2021. Dua hari berselang, penerbangan komersial perdana berangkat dari bandara ini.

Pengoperasian Bandara JBS berada di bawah PT Angkasa Pura II (Persero) berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor KP 98 Tahun 2021 tertanggal 22 April 2021. Dengan demikian, Bandara JBS menjadi bandara ke-20 yang dikelola oleh AP II.

“Pembangunan dan pengelolaan bandara ini sepenuhnya diserahkan kepada PT Angkasa Pura II,” ungkap Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi.

Selain itu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) juga telah menerbitkan Sertifikat Bandara Udara No: 0163/SBU-DBU/IV/2021 bagi Bandara Jenderal Besar Soedirman. Dokumen mandatori lainnya pun sudah disusun dan disetujui. Dokumen mandatori tersebut meliputi Airport Security Programme, Aerodrome Manual, Emergency Plan Document, Safety Management System Manual, Safety Risk Assessment, dan SOP Airside Operation.

Terletak di Desa Wirasaba, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Bandara JBS merupakan pelopor konektivitas penerbangan komersial di Jawa Tengah bagian barat dan selatan. Bandara ini menunjang kebutuhan transportasi udara masyarakat dari wilayah Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Cilacap, Kabupaten Kebumen, Kabupaten Pemalang dan Kabupaten Wonosobo.

Memiliki luas 125 hektar, Bandara JBS berada di atas tanah milik TNI AU yang pengelolaannya diserahkan kepada AP II. Fasilitas sisi udara (airside) meliputi runway berdimensi 1.600 x 30 meter untuk mengakomodir penerbangan pesawat propeller ATR 72-600 dan sejenis, apron seluas 69 x 103 meter dan taxiway dengan lebar 15 meter.

AP II turut mendukung operasional bandara melalui unit Aviation Security (Avsec), Apron

Movement Control (AMC) dan Airport Rescue and Fire Fighting (ARFF), termasuk administrasi dan maintenance.

Adapun stakeholder lainnya yang turut mendukung operasional Bandara JBS yaitu Pertamina yang menangani ground handling, Kantor Kesehatan Pelabuhan Kementerian

Kesehatan (KKP Kemenkes), BMKG, AirNav Indonesia, serta maskapai Citilink, hingga penyedia transportasi moda darat.

Kemudian untuk sisi darat (landside), apron atau parkir pesawat dapat menampung 4 unit pesawat jenis jet dan propeller (baling-baling) dalam satu waktu. Sedangkan, daya tampung terminal dapat melayani 600 ribu penumpang per tahun.

Pihak AP II mendorong adanya rute penerbangan di wilayah selatan yang transit di setiap kota, dari barat hingga timur Jawa. Misalnya, rute dari Bandara Halim Perdanakusuma

(Jakarta) – Bandara Husein Sastranegara (Bandung) – Bandara Jenderal Besar Soedirman

(Purbalingga) – Bandara Banyuwangi. Adapun untuk penerbangan sebaliknya dapat melalui

wilayah utara, misalnya, Banyuwangi – Surabaya – Semarang – Bandung – Jakarta.

Mimpi Jadi Nyata

Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi mengatakan keberadaan bandara di Purbalingga merupakan sebuah sejarah dan telah jadi mimpi besar seluruh masyarakat Purbalingga sejak 15 tahun lalu. “Mimpi itu kini menjadi kenyataan,” ungkapnya.

Keberadaan Bandara JBS di Kabupaten Purbalingga diharapkan mampu memudahkan

mobilitas orang, mobilitas barang, mobilitas logistik serta meningkatkan aksesibilitas masyarakat di wilayah Provinsi Jawa Tengah, khususnya bagian barat dan selatan, sehingga meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

“Keberadaan Bandara JBS tidak saja berdampak positif bagi sektor perekonomian, tetapi juga sektor perindustrian dan sektor pariwisata yang merupakan salah satu unggulan seluruh kabupaten di Jawa Tengah bagian barat dan selatan,” dia menambahkan.

Bupati mengajak seluruh masyarakat Purbalingga dan masyarakat di Banjarnegara-

Purbalingga-Banyumas-Cilacap-Kebumen (BARLINGMASCAKEB) atau eks Karesidenan

Banyumas untuk bersama-sama ‘menyengkuyung’, menghidupkan dan memakmurkan Bandara JBS ini.

In Active Operation

Penerbangan komersial perdana di Bandara JBS dilakukan oleh maskapai Citilink dengan rute Bandara Juanda (Sidoarjo) – Purbalingga – Halim Perdana Kusuma pada 3 Juni 2021.

Pesawat ATR 72 milik Citilink terbang dari Bandara Juanda Surabaya menuju Bandara JBS pada pukul 09.30 wib. Tepat pada pukul 11.05 WIB, pesawat dengan kode penerbangan IG

1856 tersebut mendarat mulus di Bandara JBS Purbalingga.

Selain Citilink, beberapa maskpai lain juga tertarik melayani penerbangan rute ke dan dari Bandara Jenderal Besar Soedirman. Namun, maskapai itu harus membuat pengajuan ke regulator untuk mengantongi izin rute dan flight approval.

“Maskapai yang sudah melirik rute itu adalah Wings Air dari Lion Air Group dengan jenis

pesawat ATR 72,” jelas Executive General Manager (EGM) PT Angkasa Pura II (Persero) Cabang Purbalingga, Catur Sudarmono.

Menurutnya, tingkat okupansi ke dan dari Bandara JBS pada tahap awal operasional di atas 70%. Angka ini merupakan pertanda baik.

“Pesawat Citilink yang melayani penerbangan ke Purbalingga berkapasitas 72 penumpang. Namun dengan adanya standar protokol kesehatan harus ada set (tempat duduk) yang dikosongkan,” imbuhnya.

Melihat potensi Bandara JBS dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah BARLINGMASCAKEB, Catur meminta kerja sama pemerintah daerah dalam menyinergikan

sumber daya yang ada agar bandara ini mampu memberikan manfaat maksimal.

Sejauh ini, langkah yang telah diupayakan adalah mengadakan pembicaraan dengan Dinas

Pariwisata setempat serta para pengusaha/agen travel dalam menyediakan paket akomodasi pariwisata.

“Kami beberapa kali sudah melakukan roadshow dan banyak sekali masukan-masukan

dari biro travel perjalanan wisata sekitar BARLINGMASCAKEB, seperti dari Baturaden,

Dieng, dan lain-lain, itu semua sangat mensupport kami,” ungkapnya.

Pada lebaran 2023, bandara JBS dalam status standby. Apabila nanti ada perkembanganperkembangan, Bandara JBS tetap bisa dimanfaatkan sesuai kebutuhan.

“Operasional Bandara JBS tetap buka sesuai dengan jam buka operasional dari jam 08.00

– 16.00 wib, serta rutin melakukan perawatan menyesuaikan dengan SOP yang ada,” ucapnya menambahkan.

Feeder Umroh

AP II selaku operator Bandara JBS memproyeksikan akan membuka layanan sebagai feeder umroh di bulan Agustus 2023. Rencana ini melihat animo yang tinggi dari masyarakat di Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya dalam melaksanakan ibadah umroh.

Apabila Bandara JBS bisa menjadi feeder perjalanan umroh tentu akan sangat baik sebagai

langkah optimalisasi. Masyarakat yang ada di wilayah Kabupaten Purbalingga, Banyumas,

Banjarngara, Cilacap, Kebumen, Pemalang sampai Wonosobo yang hendak perjalanan umroh tidak perlu lagi menempuh perjalanan darat menuju Jakarta.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, pengelola Bandara JBS telah berkoordinasi dengan

maskapai untuk menyediakan pesawat khusus pengangkut jemaah umroh, serta menyiapkan fasilitas handling dan lounge.

“Dari 5 Kabupaten sudah melakukan kesepakatan dengan Bupati Purbalingga, sehingga diharapkan dalam waktu dekat akan dilaksanakan penerbangan umroh menuju Jeddah,” pungkasnya.

Klik tautan dibawah ini untuk berbagi artikel

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp