Universitas Pelita Harapan (UPH) secara resmi mengukuhkan lima guru besar baru dari beragam disiplin ilmu melalui sebuah sidang terbuka yang diselenggarakan di Grand Chapel, Kampus Utama UPH, Tangerang, pada Senin (20/4). Kelima akademisi tersebut berasal dari latar belakang keahlian yang sangat bervariasi, meliputi bidang audit keuangan dan forensik, pendidikan, ilmu politik, manajemen sumber daya manusia, hingga sektor hospitality dan pariwisata.
Keberagaman disiplin ilmu yang diwakili oleh para guru besar ini menunjukkan dedikasi UPH dalam memperkuat kolaborasi lintas disiplin demi menemukan solusi bagi masalah sosial, ekonomi, dan budaya yang ada. Pada acara tersebut, setiap guru besar mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan orasi ilmiah yang berbasis pada hasil riset akademik sekaligus menawarkan sudut pandang strategis dalam menjawab isu-isu terkini.
Prof. Dr. Drs. Ardi, M.M.Si., Ak., CA., mengawali sesi orasi dengan membahas topik korupsi melalui kacamata pengembangan diri dengan judul presentasi "Embrace the Corruptor". Beliau memberikan kritik bahwa selama ini penanganan masalah korupsi terlalu bertumpu pada mekanisme hukum dan perbaikan sistem, namun sering kali melupakan dimensi internal yang ada pada diri manusia.
Dalam pemaparannya di lokasi acara, Ardi menegaskan bahwa orasi tersebut bukan merupakan kajian politik, melainkan sebuah bentuk provokasi intelektual dan metafora kritis yang mendalam. Ia memandang bahwa perilaku korupsi merupakan indikasi adanya kondisi batin yang rumit dan bukan sekadar tindakan melanggar regulasi formal saja.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa korupsi mencerminkan terjadinya pembusukan batiniah yang sistemik serta adanya penyalahgunaan tanggung jawab kekuasaan demi memuaskan kepentingan pribadi. Sementara itu, Prof. Dr. Juliana, S.E., M.M., CPHCM, CMSP, CCBM., membawa perspektif baru mengenai perubahan paradigma dalam sektor pariwisata yang saat ini tidak hanya terfokus pada layanan ekonomi semata.
Dalam orasi ilmiahnya, Juliana menguraikan bahwa dunia pariwisata kini telah bertransformasi menjadi sebuah wadah untuk menciptakan pengalaman bermakna dan kebahagiaan kolektif bagi semua pihak. Ia berargumen bahwa sektor pariwisata saat ini telah bergeser posisinya dari sekadar industri jasa menjadi sebuah arsitektur kebahagiaan berskala nasional.
Beliau juga menambahkan bahwa parameter kesuksesan di sektor pariwisata di masa depan tidak hanya dilihat dari angka-angka ekonomi, melainkan juga dari kualitas pengalaman serta tingkat partisipasi masyarakat. Orasi berikutnya dibawakan oleh Prof. Dr. Drs. Thomas Tokan Pureklolon, M.P.H., M.M., M.Si., yang mengajak para hadirin merenungkan kembali esensi sejati dari kekuasaan dalam kancah perpolitikan.
Thomas menyampaikan bahwa kekuasaan tidak boleh hanya dimaknai sebagai hubungan dominasi antara satu pihak terhadap pihak lainnya, melainkan harus dipandang sebagai sebuah relasi tanggung jawab yang besar. Menurutnya, penggunaan kekuasaan sudah sepatutnya diarahkan untuk mencapai tujuan bersama atau yang sering dikenal dengan istilah bonum commune.
Ia menekankan bahwa kekuatan sesungguhnya dari seorang pemegang kekuasaan tidak diukur dari seberapa besar ia bisa menguasai orang lain, tetapi dari komitmennya untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat luas. Selanjutnya, Prof. Dr. Ir. Drs. Khoe Yao Tung, M.M., M.Kom., M.Sc.Ed., M.Ed., D.Th., mengulas isu transformasi dunia pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI).
Khoe menyatakan bahwa saat ini dunia sedang bergerak menuju era personalisasi yang masif, yang dimungkinkan berkat kemajuan teknologi informasi serta proses digitalisasi yang terus berkembang. Ia menjelaskan bahwa pendekatan dalam proses belajar mengajar kini dituntut untuk semakin adaptif dan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik individu masing-masing siswa.
Metode pembelajaran personal atau personalized learning ini dipandang sebagai cara untuk menyelaraskan proses edukasi dengan minat, bakat, gaya belajar, serta kecepatan pemahaman yang unik dari setiap pelajar. Sementara itu, guru besar kelima yakni Prof. Dr. Tanggor Sihombing, B.A., M.B.A., memberikan perhatian khusus pada peran krusial audit dalam menjaga kepercayaan publik terhadap integritas laporan keuangan.
Tanggor menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi oleh seorang auditor tidak terbatas pada penemuan kesalahan teknis, tetapi juga mencakup deteksi terhadap potensi kecurangan yang terorganisir. Menurut hematnya, kualitas informasi keuangan yang akurat hanya dapat dijamin apabila auditor memiliki kompetensi yang mumpuni, independensi yang kuat, serta mampu memanfaatkan kemajuan teknologi.
Acara pengukuhan yang khidmat ini dihadiri oleh jajaran pimpinan universitas serta para tamu undangan terhormat dari berbagai latar belakang institusi dan profesi. Dengan bertambahnya lima guru besar ini, UPH mempertegas komitmennya dalam memberikan kontribusi akademik yang signifikan bagi masyarakat serta memacu tumbuhnya pemikiran inovatif untuk masa depan Indonesia.