Pakar Ingatkan Risiko Diabetes pada Usia Muda, Perlukah Berhenti Konsumsi Gula?

Pakar Ingatkan Risiko Diabetes pada Usia Muda, Perlukah Berhenti Konsumsi Gula?
Foto: Ilustrasi Pakar Ingatkan Risiko Diabetes pada Usia Muda, Perlukah Berhenti Konsumsi Gula?.

Penyakit diabetes kini tidak lagi dipandang sebagai gangguan kesehatan yang hanya menyerang kelompok usia lanjut atau lansia. Ketua Umum PB PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia), Em Yunir, memberikan peringatan serius mengenai pergeseran tren usia penderita diabetes yang kini menyasar kelompok usia jauh lebih muda, termasuk para remaja.

Kasus yang ditemukan saat ini menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan karena bukan hanya diabetes tipe 1 yang lazim pada anak, melainkan juga diabetes tipe 2 yang mulai merebak. Yunir menyebutkan bahwa penderita diabetes kini banyak ditemukan di usia 20 tahun, bahkan ada kasus ekstrem pada anak-anak berusia 10 hingga 12 tahun yang semakin meningkat jumlahnya saat memasuki usia 16 tahun.

Tren ini mulai terlihat nyata pada layanan kesehatan anak yang kemudian terus berlanjut ke layanan penyakit dalam ketika para pasien tersebut tumbuh dewasa. Munculnya diabetes pada usia muda ini sangat dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara asupan kalori harian yang masuk ke dalam tubuh dengan kebutuhan energi yang sebenarnya.

Sebagai ilustrasi, jika seseorang yang hanya membutuhkan 1.500 kalori per hari justru mengonsumsi hingga 2.500 kalori, maka sisa 1.000 kalori tersebut akan tertumpuk dalam tubuh. Tumpukan energi yang berlebihan inilah yang menjadi pemicu utama munculnya penyakit diabetes pada generasi muda saat ini.

Kaitan Berat Badan dan Risiko Inflamasi

Kelebihan berat badan bukan sekadar isu penampilan estetika semata, melainkan memiliki kaitan medis yang sangat erat dengan risiko timbulnya diabetes melitus tipe 2. Timbunan lemak yang berlebih di dalam tubuh dapat memicu terjadinya proses peradangan atau inflamasi kronis yang kemudian mendorong gangguan fungsi sistem tubuh.

Anak-anak dan remaja zaman sekarang menjadi kelompok yang sangat rentan karena pola makan yang tidak terkontrol serta asupan gula dan kalori yang sangat tinggi. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan berat badan yang drastis sejak usia dini, sehingga mempercepat munculnya berbagai risiko penyakit metabolik.

Em Yunir juga membenarkan anggapan masyarakat bahwa diabetes memang lebih sering dialami oleh individu yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas. Walaupun mekanisme penyakit ini cukup kompleks, faktor kelebihan berat badan tetap menjadi indikator risiko utama yang harus diwaspadai sejak dini.

Manajemen Konsumsi Gula dan Gaya Hidup

Meskipun kondisi ini terdengar mencemaskan, penderita diabetes tipe 2 pada tahap awal sebenarnya masih memiliki peluang untuk mengendalikan kadar gula darah mereka melalui perubahan pola hidup. Pada beberapa kasus tertentu, kadar gula darah bahkan dapat kembali ke angka normal tanpa bantuan obat-obatan jika penanganan dilakukan secara konsisten.

Namun, perlu diingat bahwa kondisi yang membaik bukan berarti kerentanan terhadap diabetes akan hilang sepenuhnya dari tubuh seseorang untuk selamanya. Jika individu tersebut kembali menerapkan gaya hidup yang buruk, maka kondisi diabetes dapat muncul kembali dengan risiko komplikasi yang mungkin lebih serius.

Terkait pertanyaan mengenai perlunya mengeliminasi gula secara total, Yunir menjelaskan bahwa gula masih diperbolehkan dalam jumlah yang sangat terbatas untuk kebutuhan sehari-hari. Penggunaan gula sebagai penyedap rasa dalam masakan masih ditoleransi selama jumlahnya tidak melebihi aturan kesehatan yang disarankan oleh para ahli.

Hal utama yang wajib dihindari oleh anak muda adalah kebiasaan mengonsumsi minuman manis dengan kadar gula yang sangat pekat atau sering disebut dengan istilah sugar full. Konsumsi kopi atau teh dengan pemanis yang berlebihan harus dikurangi, sementara penggunaan satu sendok teh gula untuk penyedap rasa masakan masih dianggap dalam batas aman.

Kategori Asupan Status Rekomendasi Catatan Ahli
Kebutuhan Kalori Standar ± 1.500 Kalori Kelebihan 1.000 kalori akan menumpuk menjadi lemak.
Pemanis Masakan Maksimal 1 Sendok Teh Diizinkan sebagai penyedap rasa dalam bumbu masakan.
Minuman Manis (Kopi/Teh) Sangat Dibatasi/Hindari Hindari penggunaan gula berlebih (full sugar).
Usia Rentan Baru 10 - 20 Tahun Kasus diabetes tipe 2 mulai bergeser ke usia remaja.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: www.cnnindonesia.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.

Artikel terkait

Rekomendasi