Tiga Negara dengan Tanggul Laut Raksasa untuk Mencegah Wilayahnya Tenggelam

Tiga Negara dengan Tanggul Laut Raksasa untuk Mencegah Wilayahnya Tenggelam
Foto: Ilustrasi Tiga Negara dengan Tanggul Laut Raksasa untuk Mencegah Wilayahnya Tenggelam.

Fenomena kenaikan permukaan air laut serta ancaman banjir pesisir yang kian nyata mendorong sejumlah negara di berbagai belahan dunia untuk mulai membangun infrastruktur tanggul laut raksasa atau yang lebih dikenal sebagai giant sea wall. Keberadaan konstruksi masif ini dianggap sebagai salah satu langkah mitigasi krusial dalam menghadapi dampak buruk perubahan iklim, terutama bagi kota-kota besar yang lokasinya berada di dataran rendah dan memiliki risiko tenggelam yang cukup tinggi.

Berdasarkan laporan dari arsip Antara pada Selasa (21/04/2026), proyek pembangunan The Great Sea Wall Jakarta merupakan bagian integral dari skema besar National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) atau Pengembangan Terpadu Pesisir Ibu Kota Negara. Proyek ambisius ini dirancang khusus sebagai sistem perlindungan yang bersifat komprehensif guna menjaga wilayah pesisir Jakarta agar terhindar dari bencana banjir rob yang seringkali melanda kawasan tersebut.

Infrastruktur tanggul laut tersebut direncanakan memiliki bentang panjang sekitar 32 kilometer yang dibangun di sepanjang garis pantai Jakarta Utara. Secara fungsional, dinding raksasa ini tidak sekadar menahan gempuran air laut, melainkan juga berfungsi untuk mencegah masuknya air asin ke dalam lapisan tanah daratan serta melindungi permukiman warga yang posisinya sudah berada di bawah level permukaan laut.

Urgensi pembangunan ini semakin meningkat apabila merujuk pada data World Economic Forum (WEF) tahun 2024 yang mencatat bahwa laju penurunan muka tanah di Jakarta mencapai rata-rata 17 sentimeter setiap tahunnya. Tingginya angka penurunan tersebut menempatkan Jakarta pada posisi yang sangat mengkhawatirkan sebagai salah satu kota di dunia dengan tingkat kerentanan paling ekstrem terhadap risiko tenggelam sepenuhnya.

Hadirnya The Great Sea Wall Jakarta diharapkan menjadi pilar utama dalam meningkatkan daya tahan ibu kota dalam menghadapi krisis iklim global serta menjadi solusi berkelanjutan dalam menata kawasan pesisir. Tidak hanya Indonesia, langkah serupa telah lebih dulu diambil oleh sejumlah negara lain yang mengandalkan tanggul raksasa sebagai garda terdepan untuk menghalau erosi pantai dan terjangan banjir rob yang kian destruktif.

Hingga saat ini, infrastruktur perlindungan tersebut telah terbukti memiliki peran yang sangat vital dalam mengamankan zona pesisir dari ancaman bencana alam yang intensitasnya terus menunjukkan tren kenaikan. Berikut adalah beberapa negara di dunia yang telah berhasil mengimplementasikan sistem giant sea wall untuk melindungi kedaulatan wilayah daratannya:

Daftar Negara Pemilik Tanggul Laut Raksasa

Negara Nama Proyek Panjang/Karakteristik Tujuan Utama
Korea Selatan Saemangeum Seawall 33,9 Kilometer Reklamasi lahan, pertanian, dan perlindungan pesisir.
Belanda Delta Works Sistem bendungan dan pintu air modern Mencegah banjir besar dan badai laut.
Italia MOSE Project Pintu air otomatis yang dapat bergerak Melindungi Kota Venesia dari fenomena acqua alta.
Indonesia The Great Sea Wall Jakarta (NCICD) 32 Kilometer Mitigasi banjir rob dan penurunan muka tanah.

1. Korea Selatan

Korea Selatan tercatat sebagai salah satu pionir melalui pembangunan Saemangeum Seawall yang dinobatkan sebagai tanggul laut terpanjang di dunia dengan bentang mencapai 33,9 kilometer di pesisir barat. Struktur megah ini didesain tidak hanya untuk menghalau air laut, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam proyek reklamasi lahan skala besar yang sangat ambisius.

Melalui operasional Saemangeum Seawall, pemerintah Korea Selatan secara efektif menciptakan lahan baru yang dialokasikan untuk sektor agrikultur demi memperkuat ketahanan pangan nasional di masa depan. Selain itu, wilayah di sekitar tanggul juga diproyeksikan sebagai pusat pengembangan industri dan destinasi pariwisata guna memicu pertumbuhan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal di kawasan tersebut.

2. Belanda

Sebagai negara yang secara geografis sebagian besar wilayahnya terletak di bawah permukaan laut, Belanda memiliki reputasi dunia dalam sistem pengelolaan air yang sangat canggih dan inovatif. Salah satu mahakarya rekayasa sipil mereka yang paling terkenal adalah Delta Works, sebuah sistem perlindungan pantai yang terdiri dari rangkaian bendungan, pintu air, serta tanggul laut modern.

Pembangunan Delta Works merupakan respons langsung dari tragedi banjir dahsyat pada tahun 1953 yang menelan ribuan korban jiwa serta menghancurkan infrastruktur daratan secara luas. Saat ini, sistem tersebut diakui sebagai salah satu pertahanan banjir paling mutakhir di dunia yang mampu membentengi pesisir Belanda dari badai besar dan ancaman kenaikan air laut akibat pemanasan global.

3. Italia

Italia turut mengembangkan teknologi tanggul laut yang sangat modern melalui proyek MOSE yang dirancang secara spesifik untuk mengamankan Kota Venesia dari ancaman banjir rob musiman. Sistem MOSE terdiri dari barisan pintu air mekanis berukuran raksasa yang memiliki kemampuan untuk terangkat secara otomatis saat permukaan air laut mulai naik melebihi batas aman.

Mekanisme kerja sistem ini adalah dengan menutup akses masuk air dari laut lepas menuju laguna Venesia saat terjadi pasang ekstrem, sehingga genangan air di kawasan kota bersejarah tersebut dapat dicegah. Uji coba yang dimulai sejak tahun 2020 ini menjadi harapan besar bagi Italia untuk mempertahankan warisan budayanya dari fenomena acqua alta yang telah lama menjadi ancaman serius bagi kelestarian Venesia.

Melihat keberhasilan berbagai proyek besar di atas, masyarakat kini dapat menilai sejauh mana efektivitas teknologi tersebut dalam menjawab tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Di Jakarta sendiri, pembangunan infrastruktur serupa terus dikebut di mana saat ini tanggul laut sepanjang 11,8 kilometer dilaporkan telah berhasil dibangun untuk memperkuat perlindungan warga pesisir.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: travel.detik.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.

Artikel terkait

Rekomendasi