Pemerintah China secara resmi menyatakan rasa prihatin yang mendalam terkait tindakan Amerika Serikat yang melakukan penyitaan terhadap sebuah kapal milik Iran di kawasan Teluk Oman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa pihaknya menaruh perhatian serius terhadap insiden pencegatan paksa yang dilakukan oleh militer Amerika Serikat tersebut.
Pernyataan resmi ini disampaikan langsung oleh Guo Jiakun pada hari Senin, di mana ia mengutip pentingnya menjaga stabilitas di jalur perairan internasional. Menurut laporan dari Antara, Guo menegaskan bahwa langkah kekerasan atau pencegatan paksa terhadap kapal komersial tersebut merupakan situasi yang mengkhawatirkan bagi keamanan regional.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM telah mengonfirmasi bahwa mereka berhasil mengamankan kapal dagang bernama Touska yang mengibarkan bendera Iran. Pihak militer AS berdalih bahwa penyitaan dilakukan karena kapal tersebut dianggap mencoba menembus barikade atau blokade yang sedang diterapkan oleh Amerika Serikat di wilayah strategis Teluk Oman.
Hingga saat ini, kapal Touska dilaporkan telah berada sepenuhnya di bawah kendali otoritas Amerika Serikat setelah proses pencegatan tersebut berhasil dilakukan. Insiden ini memicu reaksi diplomatik yang cukup kuat, terutama dari Beijing yang menilai tindakan tersebut dapat memperkeruh suasana di perairan Timur Tengah yang sudah memanas.
Guna meredam ketegangan yang semakin meningkat, Pemerintah China menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat untuk segera mematuhi kesepakatan gencatan senjata. Langkah ini dianggap perlu dilakukan untuk menghindari adanya eskalasi konflik yang lebih luas serta memastikan terciptanya kondisi yang kondusif bagi keamanan pelayaran.
China juga mendesak agar normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz segera dipulihkan demi kepentingan ekonomi global dan kelancaran distribusi energi. Seruan ini muncul sebagai respons atas tindakan Angkatan Laut Amerika Serikat yang mulai memblokade lalu lintas kapal dari dan menuju pelabuhan Iran sejak tanggal 13 April lalu.
Blokade ketat yang dilakukan oleh pihak militer Amerika Serikat ini menyasar seluruh aktivitas kapal di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur nadi perdagangan dunia. Selat tersebut memiliki nilai geopolitik dan ekonomi yang sangat tinggi karena menjadi jalur utama bagi pengiriman komoditas energi internasional secara masif.
| Jenis Komoditas | Kontribusi Pengiriman Dunia di Selat Hormuz |
|---|---|
| Minyak Bumi dan Produk Turunannya | Sekitar 20% |
| Gas Alam Cair (LNG) | Sekitar 20% |
Tingginya ketergantungan dunia terhadap jalur ini membuat ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran berdampak langsung pada fluktuasi harga minyak global yang dilaporkan melonjak. Sejauh ini, otoritas Amerika Serikat mengklaim bahwa kapal-kapal dari negara selain Iran tetap diperbolehkan melintasi selat strategis tersebut dengan syarat tertentu.
Syarat yang diajukan oleh Washington adalah para operator kapal non-Iran dilarang melakukan pembayaran biaya apa pun kepada pihak Teheran selama melintasi area tersebut. Namun, hingga saat ini pemerintah Iran sendiri dikabarkan belum memberikan pengumuman resmi atau kebijakan pasti mengenai rencana pungutan yang dituduhkan oleh pihak Amerika.
Situasi di Selat Hormuz dilaporkan semakin keruh setelah adanya laporan mengenai upaya Amerika Serikat yang juga ingin menyita kapal induk atau aset strategis Iran lainnya. Ketegangan ini terus dipantau secara ketat oleh dunia internasional karena potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan ekonomi di kawasan Teluk dan sekitarnya.
Pihak China berharap agar dialog tetap dikedepankan guna menyelesaikan perselisihan ini tanpa harus mengganggu arus logistik global yang melewati Selat Hormuz. Keamanan navigasi kapal di wilayah tersebut menjadi prioritas utama bagi negara-negara konsumen energi besar seperti China yang sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah.