Keterbatasan finansial tidak menjadi penghalang bagi Akhmad Wafi dalam mengejar cita-citanya menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi meskipun tabungannya sangat terbatas. Pemuda ini tetap bertekad melanjutkan kuliah dengan modal uang sisa selama menjadi santri di pondok pesantren yang ia prediksi hanya cukup untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga semester enam atau tujuh saja.
Demi menyiasati biaya hidup dan kebutuhan tempat tinggal selama masa studi, Wafi memutuskan untuk mengabdikan diri sebagai marbot di Masjid Markas Detasemen Polisi Militer VI/2 Banjarmasin. Keputusan menjadi kaum masjid tersebut ia ambil agar bisa mendapatkan tempat bernaung serta uang saku bulanan guna menyokong keberlangsungan kuliahnya di tengah himpitan ekonomi.
Perjuangan berat yang dilalui Wafi sejak awal masa perkuliahan akhirnya membuahkan hasil manis ketika dirinya berhasil berdiri di mimbar kehormatan sebagai sarjana pertama di keluarganya. Akhmad Wafi, S.H., kini dikenal sebagai salah satu wisudawan terbaik dari UIN Antasari Banjarmasin yang berhasil membuktikan bahwa kerja keras mampu mengubah keadaan.
Titik terang dalam perjalanan akademisnya mulai terlihat saat ia memberanikan diri mengikuti seleksi beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah dan dinyatakan lulus pada semester pertama. Dukungan dana dari program beasiswa pemerintah tersebut menjadi faktor kunci yang membantunya menyelesaikan seluruh proses pendidikan hingga meraih gelar sarjana tanpa kendala biaya lagi.
Wafi menyampaikan pesan inspiratif bahwa setiap niat baik dan kemauan yang kuat pasti akan selalu menemukan jalan keluar melalui berbagai perantara yang tidak terduga. Ia merupakan lulusan Program Studi Hukum Keluarga Islam di Fakultas Syariah yang sukses meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni sebesar 3,90 dengan predikat kelulusan Pujian.
Pencapaian akademis yang luar biasa ini menjadi bukti konkret bahwa kesulitan ekonomi sama sekali bukanlah penghalang bagi seseorang untuk meraih kesuksesan di masa depan. Menurutnya, sebuah proses dan usaha yang dibarengi dengan niat tulus serta kesungguhan hati akan senantiasa menghasilkan sesuatu yang manis dan memuaskan pada akhirnya.
Selain membagikan kisah perjuangan hidupnya, Wafi juga memberikan wejangan penting bagi rekan-rekan sesama wisudawan yang baru saja resmi menyandang status sebagai seorang sarjana. Ia mengingatkan bahwa gelar yang kini tersemat di belakang nama bukanlah alat untuk menyombongkan diri, melainkan sebuah amanah baru yang harus dijaga dengan baik.
Ia menekankan bahwa tanggung jawab utama dari setiap tetes ilmu yang telah didapatkan adalah bagaimana mengimplementasikannya secara nyata bagi diri sendiri, keluarga, maupun masyarakat luas. Akhmad Wafi terpilih sebagai satu dari lima wisudawan terbaik di tingkat universitas berdasarkan Surat Keputusan Rektor UIN Antasari Nomor 238 Tahun 2026.
Dalam upacara wisuda tersebut, pihak kampus secara resmi mengukuhkan total 539 orang lulusan yang terdiri dari berbagai jenjang pendidikan mulai dari sarjana hingga doktor. Rincian jumlah wisudawan tersebut mencakup 232 orang laki-laki dan 307 orang perempuan yang berasal dari beragam program studi di lingkungan UIN Antasari Banjarmasin.
| Kategori Wisudawan | Jumlah / Detail |
|---|---|
| Total Lulusan Dikukuhkan | 539 orang |
| Jumlah Wisudawan Laki-laki | 232 orang |
| Jumlah Wisudawan Perempuan | 307 orang |
| IPK Akhmad Wafi | 3,90 (Pujian) |
| Nomor SK Rektor | 238 Tahun 2026 |
Kisah Akhmad Wafi menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa dedikasi terhadap ilmu pengetahuan dapat mengalahkan rintangan finansial yang paling sulit sekalipun. Melalui kombinasi antara kerja keras sebagai marbot dan prestasi akademis melalui beasiswa KIP Kuliah, ia kini siap berkontribusi bagi masyarakat dengan gelar Hukum yang dimilikinya.