Amelia Khairani Sutrisno menjadi sosok penting di balik kemudi rangkaian kereta yang menghubungkan kawasan Lebak Bulus hingga pusat kota Jakarta. Sebagai masinis perempuan pertama di MRT Jakarta, ia berhasil mematahkan stigma maskulinitas yang selama ini melekat kuat pada sektor transportasi strategis di Indonesia.
Kehadiran Amelia di kursi kendali membuktikan bahwa akses pendidikan yang setara mampu membuka jalan bagi perempuan untuk berkontribusi di bidang yang didominasi pria. Melalui fokus dan ketelitian dalam menatap sinyal serta panel kontrol, ia menunjukkan performa profesional yang melampaui batasan gender tradisional.
Mendobrak Dominasi di Kabin Masinis
Sejak tahun 2018, Amelia resmi menjadi bagian dari sembilan perempuan di angkatan pertama masinis MRT Jakarta yang menantang pandangan lama tentang profesi ini. Ia menegaskan bahwa menjadi seorang masinis tidak memberikan ruang sedikit pun untuk kelengahan karena tanggung jawab yang dipikul sangat besar.
Bagi lulusan Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) Madiun ini, kunci utama menjalankan profesi tersebut terletak pada kedisiplinan, konsentrasi, dan tanggung jawab tinggi. Keselamatan penumpang merupakan prioritas utama yang tidak bisa ditawar dalam setiap perjalanan yang ia pimpin melintasi ibu kota.
Karakter tangguh Amelia terbentuk dari didikan orang tuanya yang merupakan seorang prajurit TNI AD dan seorang perawat di Tulungagung, Jawa Timur. Ia senantiasa memegang teguh pesan sang ayah untuk selalu menjalani setiap keputusan hidup dengan sungguh-sungguh dan penuh komitmen.
Akrab dengan Kereta Sejak Belia
Masa kecil Amelia sangat dipengaruhi oleh suasana Stasiun Kereta Api Tulungagung yang lokasinya berada tepat di depan kantor ayahnya bekerja. Setiap hari ia terbiasa mengamati lalu lalang kereta api dan para masinis laki-laki yang bekerja, meski saat itu ia belum terpikir untuk mengikuti jejak mereka.
Menariknya, Amelia kecil sebenarnya memiliki cita-cita menjadi seorang dokter karena ingin mengikuti jejak profesi medis yang dijalani oleh ibunya. Namun, garis takdir justru membawanya ke dunia perkeretaapian di mana ia tetap membawa nasihat serta didikan kedisiplinan dari kedua orang tuanya.