Kemenag Sebut 1,7 Juta Siswa MI dan MTS Bakal Mengikuti TKA 2026

Kemenag Sebut 1,7 Juta Siswa MI dan MTS Bakal Mengikuti TKA 2026
Foto: Ilustrasi Kemenag Sebut 1,7 Juta Siswa MI dan MTS Bakal Mengikuti TKA 2026.

Kementerian Agama (Kemenag) melaporkan sebanyak 1,7 juta siswa dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Pondok Pesantren telah mendaftar untuk mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Direktur KSKK Madrasah Kemenag, Nyayu Khodijah, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya membangun sistem evaluasi berbasis data guna mengukur kualitas pendidikan secara menyeluruh.

Pihak Kemenag terus berupaya meningkatkan jumlah peserta, terutama di lingkungan pesantren, agar asesmen tersebut dapat memberikan gambaran utuh mengenai capaian individu siswa maupun performa sistem pendidikan. Nyayu menambahkan bahwa data yang diperoleh nantinya akan sangat krusial dalam memetakan kualitas pembelajaran di bawah naungan Kementerian Agama.

Statistik Partisipasi Peserta TKA 2026

Berdasarkan rilis data dari Ditjen Pendidikan Islam, tingkat kehadiran peserta di lingkungan madrasah menunjukkan angka yang sangat signifikan pada berbagai jenjang pendidikan. Untuk jenjang Madrasah Ibtidaiyah, persentase lembaga yang mendaftar hampir mencapai angka sempurna, yang diikuti oleh mayoritas total siswa terdata.

Kondisi serupa juga terjadi pada tingkat Madrasah Tsanawiyah dengan angka partisipasi siswa yang tetap tinggi meski terdapat sedikit selisih dari jumlah total lembaga yang ada. Sementara itu, untuk sektor pesantren, partisipasi santri telah melampaui angka 80 persen dari total santri yang terdaftar secara resmi.

Jenjang Pendidikan Persentase Lembaga Jumlah Siswa Terdaftar Persentase Siswa
Madrasah Ibtidaiyah (MI) 97,9% 659.567 99,01%
Madrasah Tsanawiyah (MTs) 97,54% 1.005.408 96,71%
Pondok Pesantren 72,23% 45.163 84,07%

Metode Pelaksanaan dan Kesiapan Infrastruktur

Pelaksanaan TKA 2026 mayoritas akan diselenggarakan melalui moda daring atau sistem online, dengan persentase penggunaan teknologi yang dominan di semua jenjang pendidikan. Kemenag mencatat bahwa hampir seluruh Madrasah Ibtidaiyah dan pesantren akan mengadopsi mekanisme ujian berbasis digital tersebut.

Terkait kesiapan infrastruktur, proses verifikasi telah dilakukan untuk memastikan setiap lembaga mampu menyelenggarakan ujian tanpa kendala teknis yang berarti. Namun, data menunjukkan bahwa verifikasi infrastruktur di lingkungan pesantren masih berada di bawah angka 50 persen dibandingkan madrasah formal lainnya.

Nyayu Khodijah menekankan bahwa kredibilitas dan keadilan selama proses ujian menjadi prioritas utama guna mencerminkan kemampuan riil para peserta didik. Pihak Kemenag ingin memastikan hasil evaluasi ini tidak sekadar menjadi laporan angka, melainkan rujukan untuk kebijakan intervensi pendidikan ke depan.

Diharapkan hasil TKA ini akan memperkuat daya saing lulusan madrasah serta pesantren di tingkat nasional maupun global melalui program penguatan kualitas pembelajaran. Evaluasi ini menjadi landasan penting dalam menciptakan masa depan pendidikan Islam yang lebih adaptif dan terukur.

Artikel terkait

Rekomendasi