Mohammad Taqi Fabwaz Nabili, selama masa studinya di Universitas Brawijaya (UB), aktif sebagai asisten dosen (asdos) di 13 mata kuliah. Meskipun penuh aktivitas, ia berhasil meraih gelar wisudawan terbaik di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UB untuk periode XVI TA 2025/2026 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,95.
Selama menempuh pendidikan S1 Prodi Ilmu Aktuaria, Taqi menyelesaikannya dalam jangka waktu tujuh semester atau sekitar 3 tahun 4 bulan 14 hari. Ia menyatakan bahwa pengalamannya sebagai asdos dan keterlibatannya dalam organisasi bukan hanya membantunya memahami pelajaran, tetapi juga melatih kedisiplinan dan manajemen waktu.
Taqi mengakui bahwa menjaga IPK dan mengikuti ujian penyetaraan aktuaris tingkat awal menjadi tantangan tersendiri. “Ada fase di mana jadwal benar-benar padat, hampir setiap hari ada tanggung jawab,” ungkapnya, seperti yang tercantum dalam kutipan dari situs resmi UB.
Judul skripsinya adalah “Perbandingan Model ECM Engle-Granger, VECM, dan VAR dalam Menganalisis Hubungan Faktor-Faktor Makroekonomi terhadap Ekspor Nonmigas di Indonesia.” Dalam penelitiannya, ia membahas faktor-faktor seperti inflasi, nilai tukar, dan cadangan devisa terkait ekspor non-migas Indonesia.
Untuk memperoleh hasil yang akurat, Taqi membandingkan beberapa model analisis guna menentukan pendekatan yang paling tepat dalam memahami data. Temuan dari penelitiannya menunjukkan kemampuan Taqi dalam menganalisis data serta pemahaman komprehensif mengenai dinamika ekonomi.
Taqi awalnya merasa bimbang memilih Prodi Ilmu Aktuaria saat mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) atau kini disebut SNBT. Namun, dorongan dari kakak tingkat dan mentor Olimpiade Sains Nasional (OSN) di SMA melantunkan keyakinannya akan pilihan tersebut.
“Setelah mulai belajar mata kuliah seperti teori risiko, asuransi, dan analisis data, saya jadi makin paham gambaran besarnya. Dari situ rasa yakin mulai terbentuk,” terang Taqi mengenai perkembangan minatnya di bidang aktuaria.
Taqi menambahkan bahwa meskipun aktif dalam perhitungan, ilmu aktuaria penggunaannya lebih luas dalam pengambilan keputusan terkait risiko. Ia memang memiliki ketertarikan dalam matematika dan menyadari bahwa aktuaria lebih dari sekadar hitung-hitungan.
Demi mempersiapkan kariernya sebagai aktuari, Taqi telah menyelesaikan sertifikasi tahap awal, Associate of the Society of Actuaries of Indonesia (ASAI). Prestasi ini diraih berkat kerjasama antara program studi Ilmu Aktuaria UB dengan Persatuan Aktuaris Indonesia.
“Kami bisa lulus mata ujian ASAI lewat program penyetaraan hasil kerja sama prodi dan PAI. Saya sudah lulus seluruh tujuh mata ujian melalui jalur penyetaraan,” tuturnya, menjelaskan capaian prestasinya.
Setelah resmi menyandang gelar sarjana, Taqi berencana untuk mengikuti sertifikasi Fellow of the Society of Actuaries of Indonesia (FSAI) sebelum melanjutkan studi pascasarjana. KOMPAS.com berdedikasi untuk menyampaikan informasi yang jernih, tepercaya, dan berimbang bagi pembacanya.