Nama YouTuber Magdalenaf Diabadikan Jadi Varietas Cabai Super Pedas, Begini Penjelasan Guru Besar IPB

Nama YouTuber Magdalenaf Diabadikan Jadi Varietas Cabai Super Pedas, Begini Penjelasan Guru Besar IPB
Foto: Ilustrasi Nama YouTuber Magdalenaf Diabadikan Jadi Varietas Cabai Super Pedas, Begini Penjelasan Guru Besar IPB.

Prof. Muhamad Syukur, S.P., M.Si., seorang Guru Besar dari Fakultas Pertanian IPB University, telah berhasil mengembangkan varietas cabai baru dengan tingkat kepedasan luar biasa yang diberi nama Magda IPB. Penelitian inovatif ini dimulai sejak tahun 2019 melalui proses karakterisasi persilangan antara varietas lokal dan luar negeri.

Persilangan tersebut melibatkan cabai Katokkon asal Sulawesi Selatan sebagai sumber genetik lokal yang dipadukan dengan Habanero Francisca yang memiliki karakteristik buah lebat berwarna oranye. Magda IPB sendiri diklasifikasikan ke dalam spesies Capsicum Chinense, yang secara biologis berbeda dengan jenis cabai yang lazim dikonsumsi masyarakat Indonesia pada umumnya.

Perbandingan Tingkat Kepedasan Cabai

Jenis Cabai Tingkat Kepedasan (SHU) Perbandingan Skala
Cabai Rawit Standar 50.000 - 100.000 1x (Dasar)
Cabai Magda IPB 500.000 5 hingga 10 kali lebih pedas

Tingkat kepedasan varietas Magda ini mencapai angka 500.000 Scoville Heat Units (SHU), jauh melampaui cabai rawit biasa yang maksimal hanya menyentuh angka 100.000 SHU. Prof. Syukur menjelaskan bahwa rasio kepedasannya bisa mencapai sepuluh kali lipat dibandingkan dengan cabai rawit yang sering ditemukan di pasar domestik.

Nama "Magda" dipilih sebagai bentuk apresiasi kepada YouTuber kuliner Magdalenaf yang dikenal sangat aktif mengeksplorasi dan mempopulerkan kekayaan cabai di Indonesia. Prof. Syukur menilai dedikasi sang kreator konten terhadap dunia pertanian sangat jarang ditemukan di kalangan pesohor, sehingga namanya dianggap sangat cocok untuk varietas tersebut.

Secara fisik, cabai Magda IPB memiliki ciri khas unik berupa buah yang berbentuk menyerupai buah ceri dengan balutan warna peach yang menarik. Penamaan ini diberikan secara spontan saat Magdalenaf berkunjung ke kediaman sang profesor, mengingat saat itu calon varietas baru tersebut memang belum memiliki identitas resmi.

Motivasi utama di balik riset ini adalah untuk menyiasati keterbatasan lahan pertanian di tengah meningkatnya jumlah penduduk dan kebutuhan konsumsi cabai nasional. Dengan menciptakan cabai yang jauh lebih pedas, jumlah cabai yang diperlukan oleh konsumen menjadi lebih sedikit sehingga tetap dapat memenuhi kebutuhan meskipun lahan berkurang.

Selain alasan efisiensi lahan, pengembangan ini juga didorong oleh budaya masyarakat di wilayah tertentu seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan yang gemar mengonsumsi cabai super pedas. Melalui inovasi ini, diharapkan kebutuhan pasar akan komoditas cabai tetap terpenuhi dengan kualitas dan intensitas rasa yang lebih unggul.

Artikel terkait

Rekomendasi