Sempat Ditolak 2 SD dan Tanpa Les TOEFL, Arif Kini Berhasil Raih Beasiswa LPDP

Sempat Ditolak 2 SD dan Tanpa Les TOEFL, Arif Kini Berhasil Raih Beasiswa LPDP
Foto: Ilustrasi Sempat Ditolak 2 SD dan Tanpa Les TOEFL, Arif Kini Berhasil Raih Beasiswa LPDP.

Dunia bagi sosok Arif Prasetyo merupakan sebuah hamparan sunyi tanpa warna di mana langit biru maupun pekatnya malam tidak pernah terlihat secara visual. Ia mengenali pergantian waktu dari pagi ke malam hanya melalui perubahan suhu yang menyentuh kulit serta berbagai suara yang tertangkap oleh indra pendengarannya.

Lahir tanpa kesempatan melihat wajah orang tuanya maupun rona fajar di ufuk Ngawen, Arif telah akrab dengan kegelapan sejak pertama kali menghela napas di bumi. Kondisi disabilitas netra yang ia alami merupakan warisan garis hidup dari ayah dan ibunya, sebuah nasib yang juga diderita oleh mayoritas saudara kandungnya.

Dari seluruh anggota keluarganya, tercatat hanya satu saudara Arif yang terlahir dengan kondisi mata normal tanpa hambatan penglihatan. Tumbuh besar di Ngawen, ia dibesarkan oleh ayah yang mengadu nasib sebagai pengamen di kawasan Malioboro serta ibu yang bekerja sebagai penyedia jasa pijat.

Perjalanan hidup keluarga ini menjadi semakin pelik karena kedua orang tua Arif harus menjalani kehidupan secara terpisah demi menyambung hidup. Meski realitas yang dihadapi terasa ruwet bagaikan benang yang kusut, Arif tetap memegang teguh keyakinan bahwa setiap mimpi besar harus terus dikejar dengan sungguh-sungguh.

Ia mengibaratkan perjuangan hidupnya seperti seseorang yang sedang berusaha membuka kaleng kue demi bisa menikmati kelezatan isinya meskipun proses membukanya penuh tantangan. Sebelum mencapai titik sukses, Arif sempat mengalami penolakan pahit dari dua sekolah dasar di sekitar tempat tinggalnya karena alasan ketidaksiapan pihak sekolah menerima siswa disabilitas.

Akibat penolakan tersebut, ia akhirnya memutuskan untuk menempuh pendidikan di SDLB Kota Yogyakarta dan harus tinggal di asrama agar bisa belajar mandiri jauh dari dekapan keluarga. Setiap kali kembali ke Ngawen, Arif selalu membawa pulang piala prestasi untuk dipajang di ruang tamu sebagai bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk maju.

Arif menegaskan bahwa pajangan piala tersebut bertujuan agar setiap tamu yang datang menyadari bahwa hambatan fisik tidak membedakan hak setiap orang untuk belajar dan berprestasi. Semangat juang ini kemudian membawanya lolos ke jenjang S1 jurusan Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga dengan dukungan beasiswa dari program KIP Kuliah.

Mengingat bantuan KIP Kuliah belum sepenuhnya menutup biaya hidup, Arif berinisiatif menjalankan usaha berjualan parfum laundry dari kamar kosnya untuk menopang kemandirian finansial. Kegigihan tersebut menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan tidak pernah memadamkan usahanya, hingga akhirnya ia mendaftar Beasiswa LPDP Afirmasi Disabilitas untuk melanjutkan studi Magister Manajemen Pendidikan Islam.

Disclaimer:
Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber: edukasi.kompas.com tanpa mengubah fakta pada artikel asli.

Artikel terkait

Rekomendasi