Sebanyak 220 siswa tingkat SD dan SMP di Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, dilaporkan masih menjalani kegiatan belajar mengajar di bawah tenda darurat setelah tiga bulan berlalu sejak bencana banjir bandang melanda wilayah tersebut. Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Nagan Raya, Zulkifli, menyatakan bahwa meskipun dalam kondisi terbatas di bangunan darurat, para siswa tetap menunjukkan semangat tinggi untuk bersekolah.
Rincian jumlah pelajar yang terdampak mencakup siswa dari dua jenjang pendidikan berbeda di wilayah Kecamatan Beutong Ateuh Banggalang. Data spesifik mengenai komposisi murid laki-laki dan perempuan yang mengikuti proses pembelajaran di lokasi darurat tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:
| Nama Sekolah | Siswa Laki-laki | Siswa Perempuan | Total Siswa |
|---|---|---|---|
| SDN 1 Beutong Ateuh Banggalang | 55 | 68 | 123 |
| SMPN Beutong Ateuh | 54 | 43 | 97 |
| Total Keseluruhan | 109 | 111 | 220 |
Upaya Pemerintah Daerah dalam Penyelamatan Pendidikan
Zulkifli menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus mengupayakan penyediaan fasilitas sekolah darurat agar roda pendidikan tidak terhenti sepenuhnya mengingat gedung sekolah lama sudah hancur dan tidak layak pakai. Instruksi langsung dari Bupati Nagan Raya, Dr. Teuku Raja Keumangan, menekankan pentingnya pemindahan lokasi pembelajaran bagi para siswa menengah pertama ke tempat yang lebih aman.
Sebagai langkah konkret, Dinas Pendidikan telah menjalin koordinasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperindagkop) guna meminjam gedung milik dinas tersebut yang sedang tidak digunakan. Kepala Disperindagkop, Samsuar, merespons positif izin pemakaian gedung tersebut demi keberlangsungan aktivitas belajar para murid SMP yang kehilangan bangunan sekolahnya.
Pendampingan Psikologis dan Adaptasi Pengajaran
Mayoritas tenaga pendidik di wilayah tersebut merupakan putra-putri daerah asli Beutong Ateuh Banggalang, sehingga proses adaptasi kurikulum reguler di sekolah darurat dapat berjalan relatif lancar. Selain pendidikan akademis, para siswa juga mendapatkan program pendampingan khusus dari berbagai elemen seperti mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Program pemulihan trauma atau trauma healing yang diberikan pihak luar telah membantu anak-anak kembali ceria dan mulai menerima situasi pascabencana dengan lebih baik. Kolaborasi berbagai pihak ini diharapkan mampu menjaga kondisi psikologis siswa agar tetap stabil meski berada di lingkungan belajar yang belum memadai.
Rencana Pembangunan Infrastruktur Baru
Pemerintah pusat melalui Kemendikbud Republik Indonesia telah merencanakan pembangunan kembali dua unit gedung sekolah yang rusak pada tahun 2026 mendatang. Kepastian pembangunan ini didapat setelah tim pusat melakukan kunjungan lapangan untuk proses survei dan pendataan teknis terhadap kerusakan akibat bencana hidrometeorologi tersebut.
Menindaklanjuti sinyal positif dari pemerintah pusat, pemerintah daerah kini tengah menyiapkan dua lokasi baru serta merampungkan seluruh kelengkapan administrasi pertanahan yang dibutuhkan. Langkah administratif ini merupakan persiapan vital agar proyek pembangunan sekolah yang baru dapat segera dilaksanakan tanpa hambatan legalitas di masa depan.