Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menegaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata dengan Iran sangat kecil kemungkinannya untuk dilakukan jika kesepakatan damai tidak tercapai hingga Rabu malam. Pernyataan tegas tersebut disampaikan Trump pada hari Senin dalam sesi wawancara telepon dengan Jeff Mason, koresponden Gedung Putih dari media Bloomberg.
Berdasarkan keterangan Trump, masa berlaku gencatan senjata tersebut dijadwalkan berakhir pada Rabu malam waktu Washington, yang bertepatan dengan Kamis pagi waktu Jakarta. Langkah ini menyusul pengumuman awal gencatan senjata pada 7 April lalu, setelah sebelumnya Trump melontarkan ancaman serangan terhadap infrastruktur sipil Iran dan peringatan keras mengenai potensi kehancuran peradaban di negara tersebut.
Situasi diplomatik ini terus berkembang seiring dengan keberangkatan sejumlah pejabat tinggi pemerintahan Amerika Serikat menuju Islamabad, Pakistan, guna menjalani perundingan damai putaran kedua. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi kepada media The Hill bahwa Wakil Presiden Vance akan memimpin langsung delegasi tersebut dalam negosiasi dengan pihak Iran.
Selain Wakil Presiden Vance, delegasi penting AS ini juga diperkuat oleh kehadiran utusan khusus Steve Witkoff serta menantu Trump, Jared Kushner, guna mengupayakan solusi diplomatik. Trump secara tegas menolak anggapan bahwa dirinya sedang berada di bawah tekanan besar untuk segera menandatangani kesepakatan dengan Teheran dalam waktu dekat.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa dirinya sama sekali tidak merasa tertekan dan percaya bahwa segala sesuatunya akan terselesaikan dengan cepat secara relatif. Ia menekankan bahwa waktu bukan merupakan hambatan baginya, karena fokus utamanya adalah membereskan kekacauan terkait Iran yang telah dibiarkan berlarut-larut selama 47 tahun terakhir.
Presiden Trump juga mengkritik para pemimpin AS terdahulu yang dinilainya tidak memiliki keberanian maupun pandangan jauh ke depan untuk mengambil tindakan yang diperlukan terhadap Iran. Senada dengan pernyataannya di media sosial, dalam wawancara dengan Bloomberg, Trump menegaskan tidak akan terburu-buru dan enggan menyetujui kesepakatan yang buruk dengan rezim tersebut.
Salah satu tuntutan utama yang terus didorong oleh Presiden Amerika Serikat dalam proses negosiasi ini adalah agar Teheran sepenuhnya meninggalkan program pengembangan nuklirnya. Trump menutup pernyataannya dengan mengklaim bahwa mereka masih memiliki banyak waktu untuk mencapai hasil yang diinginkan tanpa harus mengorbankan kepentingan nasional AS.